Jumat, 13 April 2018


Perilaku Organisasi
2nd  Class
Perilaku   Individu   Dalam  Organisasi - Pengertian Organisasi dan Pengertian Perilaku-Pengertian Organisasi
Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1996); Organisasi; wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri. Robbins (1994) organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama  atau sekelompok tujuan.
Organisasi dapat diartikan dalam arti statis dan dinamis.
Organisasi statis adalah wadah;merupakan suatu tempat dimana orang-orang melakukan suatu kerjasama untuk mencapai tujuan.
Organisasi dalam arti dinamis;  terdapat hubungan atau interaksi antara orang-orang yang ada didalamnya, saling bekerjasama, untuk mencapai tujuan yang jika orang-orang itu tidak menggabungkan dirinya kedalam suatu organisasi mustahil ia dapat mencapai kebutuhaan hidupnya yang beraneka ragam.
Dalam pengrtian organisasi itu juga ada koordinasi yakni adanya koordinasi antara orang-orang yang bekerjasama itu yang mana orang-orang itu mempunyai suatu keterikatan yang terus menerus (dalam arti bukan selamanya terikat dalam organisasi) namun terikat sepanjang ia menjadi anggota organisasi dengan mematuhi peraturan yang ada dalam organisasi.
Organisasi mempunyai batasan yang relatif dapat diidentifikasi. Batasan ini maksudnya adalah batasan yang nyata yang harus ada untuk membedakan antara orang yang menjadi anggota dengan yang bukan anggota, perjanjian mengenai hubungan kerja.
 Organisasi untuk mencapai tujuan atau sesuatu, yang  mana tujuan atau sesuatu itu tidak akan dapat dicapai jika orang-orang itu bekerja secara sendiri-sendiri.
Pengertian Perilaku
a)      Gibson,Ivancevich dan Donnelly (1993). Perilaku adalah semua yang dikerjakan orang (yang dilakukan seseorang); misalnya berbicara kepada manajer, mengerjakan perintah manajer, mendengar saran teman sekerja, mendokumen sebuah laporan, membaca buku, belajar menggunakan sistem akunting dll.
b)      Miftah Toha (1987) perilaku adalah hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya (formulasi psikologi). Dari defenisi ini tampak bahwa perilaku individu tidak hanya ditentukan oleh individu itu sendiri tapi sampai seberapa jauh interaksi antara individu itu dengan lingkungannya.
                P = f (i.l)
c)            Hersey dan Ken Blanchard (1992); perilaku adalah serangkaian aktivitas atau kegiatan. Dasar dari setiap perilaku adalah aktivitas atau kegiatan. Dalam banyak hal seseorang itu melakukan lebih dari satu aktivitas misalnya berbicara sambil berjalan, membaca sambil mengetik. Dan pada saat – saat tertentu seseorang memutuskan untuk mengubah dari satu aktivitas atau kombinasi aktivitas untuk mengerjakan aktivitas lain.
Beberapa pertanyaan kemudian timbul;
      1. Mengapa seseorang memilih satu pekerjaan tertentu dan bukan pekerjaan yang lain. Menurut Hersey bahwa perilaku manusia itu pada hakikatnya adalah berorintasi pada tujuan dengan kata lain bahwa perilaku seseorang itu pada umumnya dirangsang oleh keinginan untuk mencapai beberapa tujuan ?
      2. Bagaimana manajer dapat memahami, menduga dan bahkan mengendalikan aktivitas yang dikerjakan seseorang pada saat tertentu. Untuk itu seorang manajer harus mengetahui dorongan atau kebutuhan seseorang yang mengundangnya untuk mengerjakan suatu kegiatan tertentu?
Pengertian Perilaku Organisasi
Robbins (2007); perilaku organisasi (OB) adalah bidang studi yang mempelajari dampak perorangan, kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi, dengan tujuan mengaplikasikan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki efektifitas organisasi. Dengan demikian perilaku organisasi (OB) terkait dengan studi terhadap apa yang dilakukan orang dalam organisasi dan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi kinerja organisasi tersebut. OB khusus mengamati keadaan yang terkait dengan ketenagakerjaan, dengan menekankan pada perilaku yang dikaitkan dengan pekerjaan, kerja, keabsenan, pengunduran diri karyawan, produktivitas, kinerja manusia dan manajemen.
 Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1993) perilaku organisasi adalah merupakan bidang studi yang mencakup teori, metode, prinsip – prinsip dari berbagai disiplin ilmu guna mempelajari persepsi individu, nilai – nilai, kapasitas pembelajar individu, dan tindakan – tindakan saat bekerja dalam kelompok dan didalam organisasi secara keseluruhan, menganalisa akibat lingkungan eksternal terhadap organisasi dan sumber dayanya, misi, sasaran, dan strateginya.
Definisi  itu memberikan gambaran terhadap sejumlah hal yakni;
1)      Perilaku organisasi adalah cara berpikir. Bagaimana caranya kita mengarahkan perilaku individu atau kelompok dalam organisasi. Untuk ini kita benar – benar perlu mengindentifikasi dengan jelas tingkat analisanya, apakah kita akan mengarahkan perilaku individu atau perilaku kelompok.
2)      Perilaku organisasi adalah multi disiplin.
3)      Berorentasi pada kemanusiaan yakni memperhatikan martabat manusia, yang ingin dihormati dan dihargai.
4)      Berorientasi pada kinerja bagaimana agar kinerja bawahan tinggi.
5)      Adanya pengaruh lingkungan eksternal pada perilaku organisasi.
6)      Perilaku organisasi sangat tergantung pada metode ilmiah dalam memperlajari variabel – variabel dan keterkaitannya.
Simpul . . .
Dari definisi perilaku organisasi tersebut diatas dapat diketahui bahwa;
 perilaku organisasi itu adalah bagaimana berusaha memahami perilaku individu didalam organisasi.  mengarahkan dan mengembangkannya serta memotivasinya untuk mencapai kinerja yang efektif.
Individu pada dasarnya mempunyai perilaku yang berbeda  satu sama lain dengan berbagai karakter dan kepribadian dan juga berbagai kemampuan dan keterampilan serta tingkat dan jenis pendidikan yang beraneka ragam.
Memanfaatka dan mengarahkan serta memotivasi mereka tentunya perlu cara yang berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Untuk itu diperlukan telaah yang sistematis dengan menggunakan dukungan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu psikologi, psikologi sosial, antropologi, sosiologi dan ilmu politik.
Ilmu-Ilmu yang Mendukung Perilaku Organisasi.
1)      Psikologi ( ilmu jiwa) berkaitan dengan aspek perilaku manusia misalnya hal – hal yang berkaitan dengan proses belajar, berpikir, persepsi dan pemecahan persoalan, pelatihan efektivitas kepemimpinan, kebutuhan dan kekuatan motivator, kepuasan kerja, proses pengambilan keputusan,, penilaian kinerja.
2)      Psikologi sosial membahas perilaku manusia dalam kelompok – kelompok. Perilaku organisasi berhubungan erat dengan psikologi sosial terutama dalam kaitannya dengan teori penyusunan dan keterpaduan kelompok.
3)      Sosiologi adalah suatu ilmu yang membahas interaksi antar manusia. Hubungannya dengan perilaku organisasi adalah bahwa sosiologi memberi sumbangan dalam membahas interaksi kelompok dan dalam menyusun organisasi.
4)      Antropologi sosial adalah membahas budaya, adat istiadat dan kebiasaaan suatu suku bangsa. Hubungannya dengan perilaku organisasi adalah untuk melihat bagaimana perilaku individu dalam organisasi yang tentunya dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan – kebiasaan tertentu dari suatu suku bangsa tertentu.
5)      Ilmu politik mempelajari perilaku individu dan kelompok dalam lingkungan politik. Dalam perilaku organisasi politik ada dalam strukturisasi konflik, alokasi kekuasaan, dan bagaimana orang memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan individu.
Pentingnya Mempelajari Perilaku Organisasi.
 Dengan mempelajari perilaku organisasi kita bisa memahami mengapa karyawan bisa berperilaku seperti yang mereka lakukan dalam organisasi. Mengapa individu dan kelompok yana satu lebih prudktif dibandingkan dengan yang lainnya. Mengapa para manajer terus-menerus mencari cara merancang pekerjaan dan melimpahkan wewenang?. Pertanyaan-pertanyaan itu dan yang serupa dengan itu sangat penting bagi bidang studi perilaku organisasi.
Suatu penelitian Nasional di AS menemukan bahwa upah dan tunjangan tambahan bukan alasan orang untuk menyukai pekerjaan mereka atau mempertahankan pekerjaan di suatu perusahaan. Jauh lebih penting dari itu adalah kualitas pekerjaan karyawan dan dukungan lingkungan kerja mereka . Bagaimana bisa meningkatkan dan mempertahankan kualitas kerja karyawan dan menciptakan lingkungan kerja yang aman?
 Robbins (2007) perlu pengembangan keterampilan  interpersonal manajer untuk mendapatkan dan  mempertahankan karyawan berkinerja tinggi. Melengkapi keterampilan interpersonal  yang baik berpotensi membuat tempat lebih menyenangkan, yang pada gilirannya membuat perusahaan lebih mudah dalam merekrut dan mempertahankan karyawan berkualitas.
Variabel-Variabel Perilaku Organisasi
Variabel; atribut dari seseorang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan orang lain  atau antara satu objek dengan objek lain. Misalnya tinggi badan, berat badan, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut seseorang dan objek (berbeda).
Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1993) perilaku organisasi adalah merupakan fungsi dari variabel – variabel individu, variabel organisasi dan variabel psikologis.
                secara sederhana dapat dituliskan B = f (I.O.P)
Formulasi  diatas menunjukkan bahwa perilaku organisasi itu terdiri dari; pertama, variabel individu ( kemampuan dan keterampilan baik  mental dan fisik, latar belakang seperti keluarga, tingkat sosial, pengalaman dan demografis seperti umur asal-usul dan jenis kelamin), kedua, variabel psikologis seperti persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi dan ketiga, variabel organisasi seperti sumber daya , kepemimpinan, imbalan, struktur dan proses.
Figur 2.1. Variabel yang Mempengaruhi Perilaku Organisasi.
Penjelasan Figure
  1. Perilaku pegawai sangatlah kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai variabel  yaitu variabel individu, variabel  organisasi,  dan variabel psikologis. Apakah manajer dapat mengubah, membentuk, dan menata kembali (memodifikasi) perilaku bawahannya? Pola – pola perilaku seseorang senantiasa berubah walaupun sedikit. Dan sudah tentu setiap manajer ingin mengubah perilaku bawahannya yakni perilaku yang menghasilkan prestasi kerja.
  2. Karena perilaku pegawai itu begitu kompleksnya maka agar manajer lebih efektif dan lebih efisien dalam usaha mencapai tujuan organisasi manajer itu harus mengakui perbedaan individu  dan mempertimbangkan perbedaan – perbedaaan individu tersebut.
  1. Dari gambar itu juga tampak bahwa hasil yang diharap dari setiap perilaku ialah “prestasi”. Dengan demikian salah satu tugas manajer adalah merumuskan standart kerja atau menentukan hasil apa yang diharapkan dari perkerjaan pegawai yang bersangkutan.
Artinya, Variabel individu, variabel psikologis, dan variabel organisasi tidak hanya mempengaruhi perilaku tapi juga prestasi. Perilaku yang berhubungan dengan prestasi adalah perilaku yang berhubungan dengan tugas – tugas pekerjaan, dan yang perlu diselesaikan untuk mencapai sasaran organisasi. Misalnya Perilaku seorang manajer yang berhubungan dengan prestasinya, mengindentifikasi masalah–masalah, merencanakan, mengorganisasikan dan mengawasi pekerjaan bawahannya serta menciptakan iklim motivasi bagi bawahannya. Jika bawahan tidak berprestasi baik maka manajer harus menyelediki hal itu.
Variabel Independen
Variabel independen adalah dugaan penyebab dari sejumlah perubahan variabel dependen. Variabel – variabel independen dapat dikelompokkan atas variabel-variabel level individu , variabel – variabel level kelompok dan variabel-variabel level sistem organisasi.
Variabel-variabel level individu. Setiap orang yang baru memasuki organisasi membawa karakteristik yang berbeda satu sama lain . Karakteristik yang paling jelas adalah karakteristik biografis atau personal seperti usia, jenis kelamin dan status perkawinan, karakteristik kepribadian seperti kerangka kerja emosi bawaan, nilai-nilai dan sikap dan level kemampuan dasar. Karakteristik tersebut sangat berpengaruh ketika individu memasuki dunia kerja , dan terhadap sebahagian besar karakteristik itu tidak banyak yang dapat dilakukan manajemen untuk merubahnya. Namun karakteristik tersebut mempunyai dampak riil pada perilaku organisasi.
Variabel-variabel level kelompok. Perilaku orang dalam kelompok melebihi jumlah total semua orang tersebut yang bertindak sendiri. Perilaku manusia ketika mereka berada dalam kelompok akan berbeda dengan ketika   sendiri.
Variabel- variabel level sistem organisasi seperti rancangan formal organisasi, proses kerja, kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik sumber daya manusia dan kebudayaan internal semua berdampak pada variabel-variabel dependen.
Variabel – Variabel Dependen.
Variabel dependen adalah faktor kunci yang terpengaruh sejumlah variabel independen. Apa yang menjadi variable-variabel dependen utama perilaku organisasi?. Para ilmuan cenderung menekankana produktivitas, keabsenan, pengunduran diri karyawan, dan kepuasan kerja. Akhir-akhir ini faktor kewargaan organisasi ditambahkan menjadi variable kelima dari variable dependen (Robbins, 2007).
Produktivitas adalah ukuran kinerja yang mencakup efektivitas dan efisiensi (Robbins, 2007). Organisasi dikatakan produktif jika ia mencapai sasarannya dan melakukannya dengan mentransfer input ke output dengan biaya terendah. Oleh karena itu produktivitas mencerminkan perhatian pada efektivitas dan efisiensi.
Ringkasnya, salah satu kepedulian perilaku organisasi adalah produktivitas. Kita ingin mengetahui faktor-faktor apa yang akan mempengaruhi efektivitas dan efisiensi individu, kelompok, dan organisasi secara keseluruhan.
Keabsenan adalah tidak melapor untuk bekerja. Organisasi akan sukar beroperasi dengan mulus mencapai sasaran jika  karyawan tidak melapor akan pekerjaan mereka (absen). Aliran kerja terganggu, dan sering keputusan-keputusan penting jadi tertunda. Pada organisasi perakitan keabsenan  menyebabkan dampak pada pengurangan kualitas produksi dan dalam sebagian kasus hal itu dapat menyebabkan penghentian total produksi.
Pengunduran diri. Pengunduran diri yang dimaksud disini adalah yang permanen secara sukarela atau terpaksa dari organisasi. Tingkat pengunduran diri yanag tinggi menghasilkan biaya yang tinggi dalam perekrutan, seleksi, dan pelatihan, apalagi yang melakukan pengunduran diri tersebut adalah orang-orang yang andal - mungkin ia mengundurkan diri karena merasa kurang diperlakukan tidak adil atau hal lain yang tidak memotivasi ia untuk berkinerja baik seperti tidak diberi wewenang, atau tidak diberi kesempatan untuk berkembang dll. Disamping itu orang yang baru saja direkrut belum tentu dapat bertahan dalam organisasi mungkin karena ia tidak merasa cocok dengan kebiasaan dan rewards yang ia terima. Namun jika pengunduran diri oleh karyawan marjinal dan submarjinal- pengunduran diri dapat bernilai positif bagi organisasi.
Kewargaan organisasi. Kewargaan organisasi adalah perilaku pilihan yang tidak menjadi bagian dari kewajiban kerja formal seorang karyawan, namun mendukung berfungsinya organisasi tersebut secara efektif. Dalam dunia kerja yang dinamis seperti saat ini, dimana tugas-tugas banyak dilakukkan dalam tim yang fleksibel, organisasi memerlukan karyawan yang  akan melakukan perilaku kewargaan yang baik seperti; membuat pernyataan konstruktif tentang kelompok kerja mereka dan organisasi, membantu yang lain dalam timnya, menjadi relawan untuk aktivitas  tugas mereka, menghindari konflik yang tidak perlu, menunjukkan kepeduliaan terhadap properti organisasi, menghormati semangat sekaligus peraturan organisasi, dan dengan lapang dada memaklumi beban dan gangguan terkait kerja yang kadang terjadi. Oleh karena itu organisasi perlu memperhatikan kewargaan organisasi sebagai variabel dependen.
Selesai . . .



Tidak ada komentar:

Posting Komentar